Asumsi dasar NLP yang ketiga adalah #Selalu ada maksud baik di balik setiap tingkah laku.

Kebanyakan kita berhenti berhubungan dengan seorang teman baik setelah bersitegang dengannya. Kita cenderung terhanyut pada perilaku negatifnya dan menjadikan tolak ukur kita menilainya. Kita enggan berupaya memandang hal itu sebagai satu insiden dan memahami maksud di balik semua itu. Dengan memahami seseorang bukanlah tingkah lakunya, memisahkan tindakan dan niatnya, Anda akan terhindar dari banyak kekecewaan.

Sebagai contoh, jika Anda tanya seorang pencuri kenapa ia mencuri. Dia mungkin menjawab pencurian itu dilakukan untuk menafkahi keluarganya. Fokus pada niat pencuri tersebut membantu Anda melihat sedikit kebaikan…

Mungkin Anda akan menemukan persamaannya dengan Anda. Akan tetapi, persepsi Anda tentang perbuatannya mendasari penilaian dan kritik Anda. Jadi, penting untuk memisahkan perilaku dan niat seseorang ketika berhubungan dengannya. Jika tidak, Anda akan terperangkap dalam generalisasi. Ingatlah ini hanya satu perbuatan, tidak adil jika kita angggap mewakili gambaran utuh dari orang tersebut. Lebih baik lagi, kita berusaha menyadari bahwa dari setiap perbuatan, tentu ada maksud positif di balik itu. Aristoteles mengatakan, “Setiap pengetahuan dan pencarian, sebagaimana setiap tindakan dan usaha bertujuan pada suatu kebaikan.”

Sumber : Buku Terapi NLP – Dr. Ibrahim Elfiky

#Hormati Cara Orang Lain Membentuk Dunianya (I)

#Peta Bukanlah Wilayah (II)