Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya.

A (anak) : Aku stres dan capek ayah.. Kenapa hidupku begitu berat sekali yah??

B (ayah) : Hmmm…

Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Anak : Kenapa hidupku begitu berat yah??

Ayah : Sabar ya nak. Ayo ikut ayah!

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

Anak : Kenapa ayah membawaku ke dapur?

Ayah : Lihat dan perhatikan dulu…

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih, sang ayah menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua, dan menaruh kopi bubuk di panci terakhir.

Ia membiarkan mendidih tanpa berkata-kata. Si anak bungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah.

Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi dimangkuk lainnya. Lalu ia bertanya kepada anaknya :

Ayah : Apa yang kamu lihat disini nak?…

Anak : Wortel, telor, dan kopi.

Ayahnya mengajak nya mendekat dan memintanya merasakan woretl itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu jadi lunak.

Ayah : Coba kau tekan wortel itu anakku, apa yang kamu rasakan?

Anak : Wortelnya jadi lunak Yah.

Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Ayah : Sekarang coba kamu kupas telur itu. Apa yang terjadi?

Anak : Telurnya menjadi keras Yah.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Ayah : Terakhir, cicipi kopi ini. Bagaimana rasanya?

Anak : Hmmm.. Aromanya sangat khas Yah.

Setelah itu, si anak bertanya.

Anak  : Lalu apa arti semua ini ayah? Karena aku masih bingung.

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Ayah : Pada awalnya ketiga ini mengalami proses yang sama, yaitu perebusan, tetapi masing-masing menghasilkan reaksi yang berbeda…Wortel sebelum direbus kuat, keras, dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada didalam rebusan air, bubuk kopi berubah menjadi air tersebut. Nah, sekarang ayah mau tanya, termasuk yang mana kamu?

Anak : ????

Ayah : Apakah kamu wortel? Ketika kesulitan mendatangimu, penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu? Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati yang lembut, dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya masalah, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi berubah karena air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.

Jadilah bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga baik.

Dikutip dari Buku Terapi Berpikir Positif – Irwan Widiatmoko

#CeritaMotivasi #CeritaInspirasi #HipnoterapiSurabaya #TerapiBerpikirPositif