Kenapa Training Karyawan Tidak Efektif

Sebuah pertanyaan yang sering menjadi kegelisahan para pemilik bisnis, “Kenapa kinerja karyawanku masih tetap seperti biasa. Belum tampak peningkatan. Meskipun mereka sudah diberikan berbagai macam training keahlian dan motivasi ?”. Apakah Anda juga memiliki pertanyaan yang sama ??

Para pemilik bisnis yang curhat pada saya tidak habis pikir tentang urusan ini. Mereka merasa sudah mendukung karyawannya dengan memberikan kesempatan untuk mengikuti berbagai event training. Baik yang diselenggarakan oleh perusahaan sendiri, dengan mengundang narasumber profesional. Atau membiayai karyawannya untuk mengikuti training yang diselenggarakan di luar perusahaan. Dimana biaya training-training tersebut terbilang cukup besar, dan ditanggung oleh perusahaan. Namun jika tidak ada hasil yang positif, maka sia-sialah upaya perusahaan untuk meningkatkan kualitas kinerja karyawannya.Menyaksikan kegelisahan para pemilik bisnis ini, kami terketuk untuk membagi lebih luas perspektif yang bisa menjadi solusi. Apalagi kami telah membuktikan melalui sesi konsultasi privat kami. Dimana sebenarnya perasaan stagnasi juga dialami oleh para karyawan. Dimana secara pribadi mereka ingin berprestasi dalam bidang kerjanya. Namun semangat dan mental block masih saja melanda. Meskipun perusahaan tempat mereka bekerja telah memberikan fasilitas berbagai training untuk meningkatkan kinerja.

Permasalahan pokok yang terjadi adalah, terjadinya fenomena “Bekerja karena terpaksa”. Sehingga karyawan bekerja hanya berfungsi sebagai robot. Asal dapat gaji, dan gajinya cukup untuk kehidupan keluarga, BERES urusan. Sehingga sisi manusia, seperti semangat, dorongan berprestasi, inisatif, inovasi, dan lain sebagainya tidak terstimulasi untuk muncul.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya fenomena ini. Yang pasti dan sering kami temui adalah kurang pahamnya / kurang jelasnya karyawan atas tujuan hidupnya sendiri. Sehingga mereka cenderung menghadapi tantangan kerja sebagai beban.

Jika diibaratkan hidup sebagai sebuah perjalanan. Maka idealnya adalah menentukan tujuan terlebih dahulu, baru menentukan kendaraannya. Tujuan hidup jaman now bukanlah “Jadi apa…” seperti yang kerap dilontarkan oleh anak TK. Namun tujuan hidup jaman now lebih pada “Punya apa” suatu saat nanti.

Ketika seorang karyawan telah menyadari tujuan hidupnya secara jelas. Selanjutnya adalah memaksimalkan kendaraan yang ada untuk mencapai tujuan. Dan secara real-nya yang disebut kendaraan adalah pekerjaan saat ini.

Sudah semestinya seorang cowok yang mengendarai sepeda motor (kendaraan) untuk tiba di rumah kekasihnya (tujuan), menjaga baik-baik sepeda motornya. Berkendara dengan aman, santun, bensin cukup, dan memberikan perawatan sebaik-baiknya. Sehingga sepeda motor ini selalu siap mengantarkannya kapanpun untuk mengunjungi kekasihnya.

Seorang karyawan yang memahami tujuan hidupnya yang jelas. Maka otomatis dia akan merawat profesinya, bekerja maksimal, dan berani berinisiatif menangkap peluang tantangan kerja. Ketika perusahaan memberikan fasilitas untuk mengikuti training pun, dia akan memaknai sebagai keuntungan buat dirinya. Bagai mendapatkan roket yang bisa dipasang pada sepeda motornya. Sehingga bisa lebih cepat mencapai tujuan hidup.

Untuk itu perusahaan perlu menyelenggarakan sesi training khusus untuk menstimulasi karyawannya mengenali tujuan hidupnya secara jelas. Sehingga kemudian karyawan bisa memaksimalkan kerjanya.

WordPress SEO fine-tune by Meta SEO Pack from Poradnik Webmastera