Mengatasi Susah Tidur Karena Patah Hati

Suatu hari datang seorang klien perempuan dengan usia yang masih cukup muda kisaran usia 27 tahun. Sebut saja namanya Mawar. Mba Mawar datang ke tempat kami dengan kondisi segar bugar, dia datang ditemani oleh salah seorang temannya.

Setelah kami berkenalan, Mba Mawar menceritakan kondisinya yang dalam kurun waktu 1 tahun terakhir ini dia mengalami susah tidur. Kadang dia begadang, namun tidak setiap hari. Dan dia merasakan lebih parahnya dalam waktu 2 bulan terakhir. Dia mengatakan saat ini saya hampir 24 jam tidak tidur sama sekali, tapi anehnya, dia tidak terlihat lemas, lunglai atau sering menguap seperti halnya jika orang kurang tidur. Dia benar-benar fresh, kok bisa yaa.. Sebelum Mba Mawar ini ada juga klien yang mengalami susah tidur, kondisinya dia itu lemas, lunglai, diajak ngobrol responnya lambat, namun tidak terjadi pada Mba Mawar ini..

putus-cinta-a

Saya mulai menggali, ada peristiwa apa sebelum 1 tahun yang lalu. Mba Mawar mulai menceritakan peristiwa yang pernah terjadi padanya. “Saya memiliki pacar, saya menjalin hubungan selama 3 tahun. Pacar saya ini orangnya baik, pengertian, mengayomi, saya sudah benar-benar sudah nyaman dengannya. Ketika dia masih belum dapat pekerjaan, saya support hingga dapat pekerjaan yang mapan seperti saat ini. Kami sering jalan bareng, nonton film dibioskop selalu berdua, dan lain sebagianya. Mungkin diawal pacaran dulu, saya masih dalam kondisi baik dalam hal keuangan, saya yang lebih banyak traktir dia. Karena saya memahami kondisinya. Dalam hubungan selama 3 tahun itu, kami sering putus nyambung. Dan setahun yang lalu, pacar saya  memutuskan saya, dan kali ini benar-benar putus. Bersamaan dengan kondisi keuangan saya tidak stabil. Saya marah, kecewa, nyesal, tidak terima dengan kondisi ini, rasa tersebut tumpah ruah jadi satu. Saya benar-benar hilang kendali. Saya berharap bisa balikan lagi dengan dia, setelah sekian lama (waktu 3 tahun ini saya merasa cukup lama) bersama. Saya gak bisa kalau diginiin, saya merasa tidak adil bagi saya. Setelah segalanya saya berikan padanya (waktu, perhatian, materi, dll), tapi kok balasannya seperti ini. Sejak saya pacaran dengan dia, saya banyak kehilangan relasi, karena dia over protektif.

Walaupun kita sudah putus, saya masih berhubungan baik dengan dia. Ketika dia butuh sesuatu, dia masih ngontak saya. Saya sering main ke rumahnya, karena saya juga dekat dengan keluarganya. Namun ketika saya main ke rumahnya dan bertemu dia, dia seakan acuh kepada saya. Berbeda sikapnya kalau pas diluar. Bahkan dia pernah berkata, saya melakukan pencitraan ketika saya dekat dengan keluarganya. Dan beberapa bulan setelah putus, dia dekat dengan perempuan lain. Yang statusnya janda beranak satu. Saya jeles, saya merasa tersakiti, namun saya juga gak bisa kalau harus menjauh dari dia.”

Saya menanyakan kepada Mba Mawar, apakah sebelum pacarannya dengan mantannya ini, Mba Mawar pernah pacaran? “Saya pernah beberapa kali berpacaran. Pertama kali saya jatuh cinta, saat SMP. Saya jatuh cinta pada seorang cowok yang saya kenal saat saya tour ke Bali. Dia seorang guide. Selisih umur saya dengan dia cukup jauh, kurang lebih 10 tahun. Saya merasa nyaman dengan dia, namun dia menganggap saya adik. Mungkin karena selisih usia yang jauh yaa. Tapi saya berharap bisa lebih dari sekedar adik, tapi pacar. Namun hingga akhirnya saya lulus sekolah SMK, dia menikah. Pupus sudah harapan saya untuk jadi pacarnya, namun walaupun demikian, kami masih tetap berhubungan baik. Setelah itu, saya menjalin hubungan dengan beberapa cowok namun kandas semua. Hingga yang terakhir dengan mantan saya ini. Saya merasa, cowok yang datang kepada saya hanya karena dua hal, uang dan tubuh saya, Ketika saya masih memiliki uang mereka mau dengan saya. Ketika saya sudah gak punya uang, lalu mereka menginginkan tubuh saya namun tidak saya berikan, mereka pun akhirnya pergi.

Saya dulu pernah berpikiran untuk tidak menikah. Saya berpikir, menikah itu ribet, ribet ngurus keluarga, gak bisa bebas buat main dengan teman, dan sebagainya. Setelah saya kenal dengan mantan saya ini, muncul keinginan untuk menikah. Dan sekarang keinginan untuk menikah, mulai pudar lagi, setelah kejadian ini.

Dirumah, saya merasa kurang dianggap. Terutama ibu saya. Ibu saya selalu membeda-bedakan antara saya dengan kakak-kakak saya. Hal ini terjadi setelah saya melakukan kesalahan (mohon maaf, incident ini tidak bisa saya ceritakan). Karena hal sepele, saya sering memarahi ibu saya. Saya merasa kasihan, juga berdosa. Namun, saya juga terkadang jengkel dengan ibu saya.”

Tak lupa saya tanyakan, Apa impian Mba Mawar, ingin jadi apa atau punya apa atau apapun juga? “Untuk saat ini, saya ingin mengembangkan bisnis travel yang sudah saya jalankan. Karena saat berpacaran dengan si mantan ini, bisnis saya jadi amburadul. Saya ingin bisa fokus ke bisnis saya ini.

Setelah Mba Mawar cerita panjang lebar, akhirnya saya ambil beberapa point yang harus segera diselesaikan. Antara lain, keberanian memutuskan “Mba Mawar tetap dalam kondisi saat ini, yg tersakiti, gak berdaya, atau Mba Mawar fokus dengan impian Mba Mawar (mengembangkan bisnis travelnya)?” Harus Mba Mawar putuskan.

Berkaitan dengan pasangan. Ada kegagalan berpola, dimana setiap laki-laki yang hadir dikehidupan Mba Mawar hanya ingin mendapatkan materi atau menikmati tubuh Mba Mawar. Hal ini mungkin saja terjadi karena memang dari awalnya Mba Mawar tidak ada niatan untuk menikah. Bisa saja terjadi hal yang berbeda ketika dari awal Mba Mawar memang mencari laki-laki untuk pendamping hidup (suami). Secara tanpa sadar, pikiran Mba Mawar menarik hal – hal yang datang pada hidup Mba Mawar.

Untuk menghilangkan emosi negatif seperti kemarahan, kekecewaan, jengkel, kebencian, penyesalan, dll. Cobalah lakukan virtual forgiveness. Caranya mudah sekali, Mba Mawar cukup cari tempat yang tenang sertanya nyaman atau dalam kondisi hening. Dalam posisi tersebut, Mba Mawar bayangkan, dalam bayangan tersebut hadirkan orang-orang yang telah membuat munculnya emosi negatif tersebut. Dalam bayangan tersebut, orang tersebut (entah mantan, orang tua atau siapapun) meminta maaf kepada Mba Mawar dan Mba Mawar memaafkannya. Dan juga sebaliknya, mungkin Mba Mawar pernah menyakiti orang lain, hadirkan orang-orang yang pernah Mba Mawar sakiti dalam bayangan tersebut, lalu Mba Mawar minta maaf serta mereka memaafkan Mba Mawar. Lakukan beberapa kali, hingga Mba Mawar merasakan beban pikiran terasa ringan.

================================================

Dan Alhamdulillah, besoknya setelah terapi. Dapat konfirmasi, Mba Mawar sudah mulai bisa tidur normal kembali.

Namun, perlu diketahui, cara kerja hipnoterapi tidak bisa instant. Ada yang langsung merasakan perubahan setelah terapi, ada juga yang butuh waktu agak lama, walaupun problemnya hampir sama.

WordPress SEO fine-tune by Meta SEO Pack from Poradnik Webmastera