madrasah

Beberapa hari lalu (9 April 2012), saya mengikuti pelatihan Hypnoteaching yang diadakan di Pesantren Maskumambang Dukun Gresik. Hadir sebagai pembicara dan motivator adalah Oktastika Badai Nirmala dari Media Sugesti Surabaya. Mas Okta, demikian ia disapa, adalah penemu Wise Mind Program (Program Berpikir Bijak). Pelatihan itu berlangsung lancar dan meriah, diikuti sekitar 200 guru dan dosen.

Memang, pelatihan, seminar, workshop, atau apapun istilahnya, penting digalakkan, terutama di lembaga pendidikan. Tujuannya, agar pengetahuan guru dan dosen terus ter-update dengan berbagai informasi dan pengalaman baru. Prof M Amin Abdullah, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pernah bilang kepada saya bahwa guru dan dosen itu tidak boleh terkena virus expired knowledge.

Ibarat dokter, agar bisa mendiagnosis sekaligus mengobati berbagai jenis penyakit yang terus berkembang, dokter harus mampu memperbarui pengetahuannya. Tugas pendidikan tentu tidak sama dengan tugas kedokteran. Malapraktik dalam bidang kedokteran paling banter menyebabkan pasien meninggal dunia. Tetapi malapraktik dalam dunia pendidikan berbuntut panjang, menghancurkan masa depan hidup anak atau murid secara berkelanjutan.

Karena itu, guru hebat seharusnya adalah murid yang hebat. Analoginya, pendidik harus punya kemampuan dan gairah belajar yang jauh melebihi peserta didik. Jika peserta didik membaca satu buku, pendidik harus khatam lima buku. Jika peserta didik belajar satu jam, pendidik harus dua-tiga jam sehari. Guru yang baik adalah murid baik (Ingat! kata “murid” bermakna “orang yang sangat mengingini ilmu”).

Menjadi murid tidak hanya di bangku kuliah atau sekolah. Berburu ilmu tidak terbatas ruang dan waktu. Islam menyebut dari buaian sampai kuburan. Setelah lulus, modal dari sekolah atau kuliah itu semestinya menjadi kunci untuk membuka ilmu kehidupan yang lebih luas. Tradisi membaca, menulis, berpikir, dan mengamati patut digairahkan di dunia pendidikan.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu percaya dengan gelar. Sering kita jumpai seseorang yang keilmuannya tidak paralel dengan gelarnya. Ini boleh jadi disebabkan ketidaktepatan orang bersangkutan dalam memaknai belajar. Misalnya, ketika sudah tamat kuliah dengan menyandang gelar master atau doktor, ia lantas tutup buku. Merasa sudah mapan dan tidak sempat lagi me-refresh pikiran.

Membaca sudah tidak lagi dipentingkan, karena tidak selalu berkorelasi dengan penghasilan. Menurutnya, tugas guru atau dosen adalah mengajar, bukan belajar. Jangan heran jika ada guru atau dosen yang hanya menguasai pelajaran yang diampunya. Diajak ngomong soal berita atau informasi terbaru, apalagi perkembangan buku, tidak pernah connect. Meski demikian, kalau sudah berbicara seputar cara agar mendapat tunjangan, mendapat proyek, cepat naik pangkat, dan semacamnya yang berkaitan dengan fulus, terampilnya luar biasa. Paham di luar kepala.

Dari sini saya mengapresiasi pelatihan atau seminar bertema apa saja yang bisa meningkatkan hal-hal positif bagi pesertanya. Sikap apriori karena merasa sudah pandai atau lebih senior akan membuat informasi sukar masuk. Padahal ilmu apa saja sangat berguna bagi hidup manusia.

Juga saya angkat topi untuk Mas Okta. Selain penampilannya yang khas dan unik, ia adalah sosok anak muda yang cerdas. Usianya baru 31 tahun dan masih lajang. Tahun 2004 lulus sarjana psikologi dari Universitas Putra Bangsa (UPB), Surabaya, pada 2008 sudah mendirikan perusahaan training motivasi bernama Media Sugesti. Dalam usia muda ini, Mas Okta bisa tampil sebagai Hypnotivator dan Hypnotherapist yang diundang kemana-mana.

 

(Muhammad Husnaini / pendidik MA YKUI Maskumambang, Gresik)

 

{jcomments on}